Selasa, 29 Juli 2025

Bersama Menjaga Lembaga


BERSAMA MENJAGA LEMBAGA

Kadang kita melihat dan merasa ganjil, ada guru yang semangatnya luar biasa, berlari lebih dulu, mengayuh lebih kuat, bahkan rela berkorban tanpa banyak bicara. Tapi ada juga datang sekedar menggugurkan absen, mengajar tanpa gairah, pulang lebih cepat dari komitmen, dan tak pernah hadir sepenuh hati.

lalu kita bertanya dalam hati, mengapa bisa begitu ?

Jangan heran jika hanya ada yang hanya menumpang di lembaga, karena lembaga ini tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang masih dlam proses. Tidak semua sudah sampai pada pemahaman bahwa pekerjaan ini ibadah, bahwa mengajar adalah ladang akhirat dan bahwa setiap detik di lembaga ini bisa jadi bekal masa depan.

penyakit itu kadang berupa dinginnya hati, keringnya niat, atau tumpulnya rasa tanggung jawab. Tapi bukan untuk dibenci, melainkan untuk disadarkan, didoakan, dan kalau bisa dituntun dengan kasih,barangkali mereka belum tersentuh oleh cinta, belum tergerak oleh teladan, atau bahkan sedang menunggu sentuhan rohani dari kita yang lebih dulu paham.

Mari jangan lelah menjadi angin, yang walaupun tak terlihat, tetap mendorong layar agar kapal terus melaju. karena lembaga ini sedang berlayar. Dan dalam satu kapal, ada yang giat mendayung, ada yang duuk diam, dan ada pula yang tanpa sadar melubangi dinding kapal. Tugas kita bukan mengusir, tapi mengingatkan bahwa jika kapal ini tenggelam semua akan ikut karam.

Jadi jangan heran kalau ada penyakit dalam lembaga, yang penting kita jangan ikut terjangkit, tetaplah jaga niat, kobarkan semangat, dan jadilah bagian dari kesembuhan bukan peenyebar luka.(disadur dari acmad suyuthi)

Senin, 21 Juli 2025

Amanah Indah Sang Kholiq

 Seorang anak mungkin tak cakap dalampelajaran kognitif, tak pandai berhitung atau membaca lancar seperti teman-temannya, namun ia memiliki hati yang lembut dan peka terhadap sekitarnya. Ia yang paling cepat menolong teman yang sedih, yang tahu kapan harus diam mendengarkan, dan tahu cara menyentuh hati dengan perhatian kecil yang sering luput dari mata kita.

Inilah bentuk kecerdasan yang tidak selalu tertulis di rapot, tetapi tercatat di langit, empati yang tulus  dari fitrah jiwanya.

Seringkali kita sebagai orang tua dan guru terjebak pada pandangan sempit bahwa anak cerdas adalah yang nilainya tinggi, juara kelas, atau pandai bicara. Padahal setiap anak hadir membawa karunia yang berbeda, dan tidak semua bentuk kepandaian bisa diukur dengan angka.

Jika kita hanya mengukur anak dari prestasi akdemik, kita mungkin sedang memotong sayap anak-anak yang dikarunia kecerdasan hati.

Mari kita perluas cakrawala dalam memandang anak: syukuri kehadirannya sebagai amanah, bukan proyek ambisi, dampingilah ia tumbuh sesuai fitrahnya, bukan paksa menjadi seperti harapan dunia, karena bisa jadi, justru dari anak yang tak menonjol itu, Allah sedang menitipkan pelajaran besar tentang kasih sayang, kesabaran, dan arti menjadi manusia seutuhnya.

Maka bersyukurlah atas karunia seorang anak yang hadir dalam hidup kita, bukan karena ia memenuhi standar kita, tapi karena ia membawa misi Tuhan yang indah dalam wujudnya dirinya yang indah..Aamiin (disadur dari Rofiulclay)

Niat Spotlight Amal

  Ada satu hadis yang membuat kita selalu khawatir, ada salah satu te mpat di neraka yang Jahannam saja berlindung darinya sehari berpuluh k...