Surat al an’am 162
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
[QS. Al-An’am: 162]
Tafsir as-Sa’di:
Ayat sebelumnya masih umum, dan ayat ini lebih khusus, dengan menyebutkan ibadah yang utama. Ada yang mengartikan “nusuk” di ayat ini dengan “sembelihanku”. Disebutkan shalat dan kurban adalah karena keutamaan kedua ibadah ini, di mana hal itu menunjukkan cinta kepada Allah Ta’ala, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan menunjukkan pendekatan diri kepada Allah baik dengan hati, lisan, anggota badan maupun dengan harta.
Ma’sirol muslimin rahimakumullah.
Ayat di atas kata sholati diucapkan paling depan, itu memberikan makna bahwa sholat adalah ibadah yang utama, artinya sholatku, nusukku untuk mendukung sholatku, hidupku untuk mengisi sholatku, matikupun untuk menyempurnakan sholatku. Ini berarti matiku , hidupku, nusukku akan sempurna jika akau menyempurnakan sholatku dan sholatku akan menjadi sempurna jika kupersembahkan hanya untuk dzat yang paling sempurna yaitu Allah SWT.
Syaikh Moh Ali Aziz dalam bukunya “Bahagia dengan Sholat” menjelaskan, bahwa dua hal yang pekerjaan menunggu dapat membuat hidup sesorang menjadi Bahagia dunia dan akhirat:
1. Menunggu waktu sholat
Jika kita selesai sholat dhuhur maka kita berdoa agar bisa dipertemukan Allah dengan waktu ashar, setelah sholat ashar kita berdoa lagi agar dapat Kembali melaksanakan sholat maghrib, begitu seterusnya. Artinya semua pekerjaan yang kita kerjakan setelah sholat, jadi pedagang, petani, pegawai, maka semua pekerjaan itu kita lakukan hanya untuk perantara menunggu sholat berikutnya.
Menunggu ajal Ketika dijemput Izrail kita dalam kedaan menunggu waktu sholat atau dalam keadaan sujud kepada Allah