Selasa, 28 Oktober 2025

GURU SABAR...SABAR YA GURU

 

Sebagai guru, kita mungkin sudah banyak membaca berbagai macam tips menjagi guru yang baik, menjadi guru yang sabar, menjadi guru yang disukai  anak-anak dari buku, tulisan essei, maupun dari media sosial. Tulisan  berikut ini mungkin menjadi salah satu tambahan referensi bagi teman-teman guru yang ingin terus belajar menjadi guru yang baik. Tulisan  ini juga mengambil inspirasi dari tulisan "cikgu Nurisa". Ada beberapa hal yang kita bisa belajar untuk memperbaiki kualitas dhohir maupun batin sebagai seorang guru yang sabar:

1. Berniatlah mengajar sebagai ibadah bukan sekedar melaksanakan tugas, ibadah hanya disandarkan kepada Yang Mencipta, tugas disandarkan pada manusia. Ibadah tak mengenal lelah, tugas bisa berakhir dengan rasa jengah, ibadah dilandasi keihlasan mengabdi sedang tugas dilandasi yang penting pekerjaan selesai. Mengajar dan mendidik anak akan menjadi ladang pahala yang luar biasa besar jika dilandasi dengan niat ibadah, lelah menjadi lillah, kritik jadi pemantik, pikir menjadi dzikir, penat menjadi nasehat, sakit menjadi spirit dan malas menjadi ikhlas.

2. Dengarkan lebih banyak, Tegur anak dengan hati. Guru yang berkharisma bukan guru yang paling keras suaranya, tapi harus tahu situasinya, kapan harus tegas dan yang paling penting tenang saat bicara. jangan terburu-buru marah ketika murid salah, tanyakan dulu alasannya, tegur dengan kalimat yang menyentuh bukan yang mempermalukan, nada yang tenang dan tegas jauh lebih berkesan daripada teriakan.

3. Kendalikan emosi. Sabar itu bukan berarti tidak boleh marah, tapi tahu kapan dan bagaimana menyalurkan marah. Guru manusia biasa yang dalam kesehariannya melekat sifat-sifat manusiawinya. Kadang beberapa masalah yang berhubungan dengan pribadi bisa mempengaruhi sikap maupun pemikiran seorang guru ketika mengajar sedangkan anak-anak juga terkadang menghendaki perhatian khusus sebagai akibat dari interaksi diantara kita dan teman-temannya. maka jika emosi naik, diam sejenak, tarik nafas dan alihkan pandangan, dekaplah hati dan berbisiklah pelan bahwa anak-anak yang kita didik adalah anak-anak kita juga. 

4. Jadilah teladan dengan sikap kecil. Guru yang uswah bukan yang nayak teori, tapi yang konsisten dalam tindakan, datang tepat waktu, berbicara tenang dan tegas, ikut menjaga kebersihan, empati kepada semua anak, rapi, semua itu dilihat anak. mereka tidak hanya meniru kata-kata guru tapi juga cara hidup gurunya.

5. Gunakan senyum sebagai bahasa utama. Kadang satu senyuman dari guru bisa mengubah hati dan hari-hari seorang anak. senyum yang tulus membuat murid merasa aman dan nyaman. Mereka akan menganggap guru sebagai orang tuanya, madrasah jadi rumahnya. perasaan hormat akan muncul dari anak dalam penghormatan yang sejati bukan keterpaksaan.

6. Fokus menanam nilai, bukan mengejar pujian. Guru berkarakter tidak sibuk ingin disukai, tapi sibuk membentuk karakter. Menanam nilai pasti ada harapan tumbuh karakter anak yang lebih kuat, kokoh dan berintegritas pada nilai-nilai yang diyakininya, bukan menjadi anak yang  hanya ingin disuka. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri anak akan menjadi pegangan dan kendali diri dalam hidupnya.

7. Doakan murid-muridmu. Guru yang sabar tidak hanya mengajar dengan lisan, tidak hanya menanamkan nilai-nilai kehidupan, tapi iringi juga dengan Do'a. karena do'a guru adalah bentukkasing sayang paling sunyi, tak terlihat, tapi akan jadi cara mengajar yang paling dalam, karena disertai dengan bisikan kepada pencipta alam..Allah SWT.

" Guru yang sabar tidak dilahirkan dari kenyamanan, tapi dari banyak luka yang dipeluk dengan keikhlasan "



Senin, 04 Agustus 2025

ILMUKU ADABMU ANAKKU

 Ilmuku Adabmu Anakkku


Anakku...

Sebelum kau mengejar rangking

Sebelum kau bermimpi keliling dunia

Sebelum kau bangga dengan gelar dan ijazahmu

Belajarlah unuk menunduk

Belajarlah diam ketika orang tuamu berbicara

Belajarlah untuk tidak menyela

Belajarlah untuk mencium tangan gurumu

Meski tangan itu tak seharum parfum idolamu

Anakku...

Pintarmu tak berarti apa-apa

Jika lidahmu tajam kepada ibumu

Jika matamu melotot pada ayahmu

Jika kakimu melangkah tak hormat melewati gurumu

Pintarmu bisa mengantarmu ke perguruan tinggi ternama

Tapi...tanpa adab

Kau hanya akan menjadi orang pandai yang dibenci banyak hati

Anakku...

Guru bukan hanya penyampai pelajaran

ereka adalah jalan doamu menuju langit

Jangan lupakan tangan-tangan tua yang dulu menuntun jemarimu membaca huruf demi huruf

Jangan kau lupakan suara yang serak karena setiap hari menyebut namamu dalam doa

Anakku....

Lulusan terbaik bukan mereka yang mendapat nilai sempurna

Tapi mereka yang hatinya lembut

Yang tahu kapan harus diam

dan tahu kepada siapa mereka harus menunduk

Adap itu mendahului ilmu

Adab adalah jembatan yang menyambungkan hatimu kepada Allah

Tanpa Adab

Semua yang kau pelajari hanyalah bebatuan kosong

yang tak bisa membangun hidupmu....Apalagi Akhiratmu

(disadur dari Achmad suyuthi)



Selasa, 29 Juli 2025

Bersama Menjaga Lembaga


BERSAMA MENJAGA LEMBAGA

Kadang kita melihat dan merasa ganjil, ada guru yang semangatnya luar biasa, berlari lebih dulu, mengayuh lebih kuat, bahkan rela berkorban tanpa banyak bicara. Tapi ada juga datang sekedar menggugurkan absen, mengajar tanpa gairah, pulang lebih cepat dari komitmen, dan tak pernah hadir sepenuh hati.

lalu kita bertanya dalam hati, mengapa bisa begitu ?

Jangan heran jika hanya ada yang hanya menumpang di lembaga, karena lembaga ini tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang masih dlam proses. Tidak semua sudah sampai pada pemahaman bahwa pekerjaan ini ibadah, bahwa mengajar adalah ladang akhirat dan bahwa setiap detik di lembaga ini bisa jadi bekal masa depan.

penyakit itu kadang berupa dinginnya hati, keringnya niat, atau tumpulnya rasa tanggung jawab. Tapi bukan untuk dibenci, melainkan untuk disadarkan, didoakan, dan kalau bisa dituntun dengan kasih,barangkali mereka belum tersentuh oleh cinta, belum tergerak oleh teladan, atau bahkan sedang menunggu sentuhan rohani dari kita yang lebih dulu paham.

Mari jangan lelah menjadi angin, yang walaupun tak terlihat, tetap mendorong layar agar kapal terus melaju. karena lembaga ini sedang berlayar. Dan dalam satu kapal, ada yang giat mendayung, ada yang duuk diam, dan ada pula yang tanpa sadar melubangi dinding kapal. Tugas kita bukan mengusir, tapi mengingatkan bahwa jika kapal ini tenggelam semua akan ikut karam.

Jadi jangan heran kalau ada penyakit dalam lembaga, yang penting kita jangan ikut terjangkit, tetaplah jaga niat, kobarkan semangat, dan jadilah bagian dari kesembuhan bukan peenyebar luka.(disadur dari acmad suyuthi)

Senin, 21 Juli 2025

Amanah Indah Sang Kholiq

 Seorang anak mungkin tak cakap dalampelajaran kognitif, tak pandai berhitung atau membaca lancar seperti teman-temannya, namun ia memiliki hati yang lembut dan peka terhadap sekitarnya. Ia yang paling cepat menolong teman yang sedih, yang tahu kapan harus diam mendengarkan, dan tahu cara menyentuh hati dengan perhatian kecil yang sering luput dari mata kita.

Inilah bentuk kecerdasan yang tidak selalu tertulis di rapot, tetapi tercatat di langit, empati yang tulus  dari fitrah jiwanya.

Seringkali kita sebagai orang tua dan guru terjebak pada pandangan sempit bahwa anak cerdas adalah yang nilainya tinggi, juara kelas, atau pandai bicara. Padahal setiap anak hadir membawa karunia yang berbeda, dan tidak semua bentuk kepandaian bisa diukur dengan angka.

Jika kita hanya mengukur anak dari prestasi akdemik, kita mungkin sedang memotong sayap anak-anak yang dikarunia kecerdasan hati.

Mari kita perluas cakrawala dalam memandang anak: syukuri kehadirannya sebagai amanah, bukan proyek ambisi, dampingilah ia tumbuh sesuai fitrahnya, bukan paksa menjadi seperti harapan dunia, karena bisa jadi, justru dari anak yang tak menonjol itu, Allah sedang menitipkan pelajaran besar tentang kasih sayang, kesabaran, dan arti menjadi manusia seutuhnya.

Maka bersyukurlah atas karunia seorang anak yang hadir dalam hidup kita, bukan karena ia memenuhi standar kita, tapi karena ia membawa misi Tuhan yang indah dalam wujudnya dirinya yang indah..Aamiin (disadur dari Rofiulclay)

Kamis, 27 Oktober 2022

(BAG 2) GURU KONTRASEPSI

 

A.    Pengertian, Tugas dan Tanggungjawab Guru

1.      Pengertian Guru

          Mujtahid dalam bukunya yang berjudul “Pengembangan Profesi Guru”, mengutip Kamus Besar bahasa indonesia mendefinisikan guru adalah orang yang pekerjaan, mata pencaharian, atau profesinya mengajar.[1] Sri Minarti mengutip pendapat ahli bahasa Belanda, J.E.C. Gericke dan T. Roorda, yang menerangkan bahwa guru berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya berat, besar, penting, baik sekali, terhormat, dan pengajar. Sementara dalam bahasa Inggris dijumpai beberapa kata yang berarti guru, misalnya teacher yang berarti guru atau pengajar, educator yang berarti pendidik atau ahli mendidik, dan tutor yang berarti guru pribadi, guru yang mengajar di rumah, atau guru yang memberi les.[2]

Sementara Supardi dalam bukunya yang berjudul “Kinerja Guru” menjelaskan pengertian guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah jalur pendidikan formal.[3]

Selanjutnya dalam literatur kependidikan Islam, banyak sekali kata- kata yang mengacu pada pengertian guru, seperti  murabbi, mu’allim, dan

muaddib. Ketiga kata tersebut memiliki fungsi penggunaan yang berbeda- beda.[4] Menurut para ahli bahasa, kata murabbi berasal dari kata rabba yurabbi yang berarti membimbing, mengurus, mengasuh, dan mendidik. Sementara kata mu’allim merupakan bentuk isim fa’il dari ‘allama yu’allimu yang biasa diterjemahkan mengajar atau mengajarkan.[5] Hal ini ditemukan dalam surat Al Baqarah ayat 31 yang menjelaskan bahwa Allah mengajarkan kepada Adam nama semua benda, termasuk mangkuk besar. Kemudian mengemukakan nama-nama benda tersebut kepada para malaikat.[6] Dengan demikian, ‘allama disini diterjemahkan dengan mengajar. Istilah muaddib berasal dari akar kata addaba yuaddibu yang artinya mendidik.[7] Di samping itu, seorang guru juga biasa disebut sebagai ustaż.

Menurut Muhaimin, kata ustaż mengandung makna bahwa seorang guru dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya, dan dikatakan profesional apabila pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang hidup di masa depan.[8]

Menurut Muhammad Muntahibun Nafis, guru adalah bapak ruhani (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilaku yang buruk. Oleh karena itu, guru memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam beberapa teks, di antaranya disebutkan: “Tinta seorang ilmuwan (yang menjadi guru) lebih berharga ketimbang darah para syuhada”. Muhammad Muntahibun Nafis juga mengutip pendapat Al-Syauki yang menempatkan guru setingkat dengan derajat seorang rasul. Dia bersyair: “Berdiri dan hormatilah guru. dan berilah penghargaan, seorang guru hampir saja merupakan seorang rasul”.[9]

Kemudian selain yang telah dipaparkan di atas, dalam bahasa Arab guru juga sering disebut dengan mudarris yang merupakan isim fa’il dari darrasa, dan berasal dari kata darasa, yang berarti meninggalkan bekas, maksudnya guru mempunyai tugas dan kewajiban membuat bekas dalam jiwa peserta didik. Bekas itu merupakan hasil pembelajaran yang berwujud perubahan perilaku, sikap, dan penambahan atau pengembangan ilmu pengetahuan.[10] Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Kemudian guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak harus di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, di surau atau mushola, di rumah dan sebagainya.[11] Jadi dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah pendidik  dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada lembaga pendidikan formal, informal maupun non formal yang bertanggungjawab secara dhohir maupun batin untuk mengantarkan peserta didik pada kesuksesan dunia maupun akhirat.

2.      Tugas dan Tanggungjawab Guru

               Menurut Mujtahid, tugas adalah aktivitas dan kewajiban yang harus diformasikan oleh seseorang dalam memainkan peranan tertentu.[12] Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal 1, dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[13]

Untuk menjabarkan rumusan tersebut di atas, berikut ini merupakan penjelasan guru sebagai pendidik, pembimbing, dan pelatih.

a.       Guru sebagai Pendidik

Mujtahid dalam salah satu tulisannya, mengutip pendapat Muchtar Buchori yang memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan mendidik adalah proses kegiatan untuk mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup pada diri seseorang.[14]

b.      Guru Sebagai Pembimbing

Tugas guru sebagai pembimbing terletak pada kekuatan intensitas hubungan interpersonal antara guru dengan peserta didik yang dibimbingnya. Guru juga dituntut agar mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, dan membantu memecahkannya.

c.       Guru sebagai Pelatih

Guru juga harus bertindak sebagai pelatih, karena pendidikan dan pengajaran memerlukan bantuan latihan keterampilan baik intelektual, sikap, maupun motorik. Agar dapat berpikir kritis, berperilaku sopan, dan menguasai keterampilan, peserta didik harus mengalami banyak latihan yang teratur dan konsisten. Kegiatan mendidik atau mengajar juga tentu membutuhkan latihan untuk memperdalam pemahaman dan penerapan teori yang disampaikan.[15]

Selain yang disebutkan di atas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen juga mencantumkan tugas guru yang terdapat dalam Bab IV Pasal 20, antara lain:

a.       Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

b.      Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

c.       Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.

d.      Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.[16]

Berkaitan dengan tugas guru, Abidin Ibnu Rusn juga mengutip pendapat Al-Ghazali, beliau menyebutkan beberapa hal sebagai berikut.

a.       Guru ialah orang tua kedua di depan murid

Seorang guru akan berhasil melaksanakan tugasnya apabila mempunyai rasa tanggung jawab dan kasih sayang terhadap muridnya sebagaimana orang tua terhadap anaknya sendiri. Tugas guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga berperan seperti orang tua.

b.      Guru sebagai pewaris ilmu nabi

Seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, harus mengarah kepada tujuan hidup muridnya yaitu mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Guru harus membimbing muridnya agar ia belajar bukan karena ijazah semata, hanya bertujuan menumpuk harta, menggapai kemewahan dunia, pangkat dan kedudukan, maupun kehormatan dan popularitas, melainkan untuk mengharap ridha Allah.

c.       Guru sebagai penunjuk jalan dan pembimbing keagamaan murid Berdasarkan keikhlasan dan kasih sayangnya, guru selanjutnya

bertugas sebagai penunjuk jalan bagi murid dalam mempelajari dan mengkaji pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Guru juga harus memberi nasehat kepada murid untuk meluruskan niat, bahwa tujuan belajar tidak hanya untuk meraih prestasi duniawi, tetapi yang lebih penting adalah untuk mengembangkan ilmu itu sendiri, menyebarluaskannya, dan mendekatkan diri kepada Allah.[17]

d.      Guru sebagai Figur Sentral Murid

Al-Ghazali menasehatkan kepada setiap guru agar senantiasa menjadi teladan dan pusat perhatian bagi muridnya. Ia harus mempunyai karisma yang tinggi. Di samping itu, kewibawaan juga sangat menunjang dalam perannya sebagai pembimbing dan penunjuk jalan dalam masa studi muridnya.

e.       Guru sebagai motivator bagi murid

Guru harus memberikan peluang kepada murid untuk mengkaji berbagai ilmu pengetahuan, yakni memberikan dorongan kepada muridnya agar senang belajar.

f.       Guru sebagai seorang yang memahami tingkat perkembangan intelektual murid

Menurut Al-Ghazali, usia manusia sangat berhubungan erat dengan perkembangan intelektualnya. Anak berusia 0-6 tahun berbeda tingkat pemahamannya dengan anak berusia 6-9 tahun, anak berusia 6-9 tahun berbeda dengan anak berusia 9-13 tahun, dan seterusnya. Atas dasar inilah Al-Ghazali mengingatkan agar guru dapat menyampaikan ilmu pengetahuan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tingkat pemahaman murid.[18]

 



[1] Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), hlm. 33.

[2] Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam: Fakta Teoritis-Filosofis dan Aplikatif-Normatif, (Jakarta: Amzah, 2013), hlm. 107-108.

[3]Supardi, Kinerja Guru, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 8.

[4] Sri Minarti, Ilmu Pendidikan Islam..., hlm.108.

[5] Heri Gunawan, Pendidikan Islam: Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 163.

[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, hlm. 6.

[7] Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwatut Tafāsir, (Beirut: Dar al-Qur‟an al-Karim, t.t.), Jilid 1, hlm. 48.

[8] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Surabaya: PSAPM, 2014), hlm. 209-210

[9] Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 88

[10] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi: Pesan-Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan, (Jakarta:Amzah: 2013) hal.63

[11] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 31.

[12] Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, hlm. 44

[13] Undang-Undang Guru dan Dosen..., hlm. 3.

[14] Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, hlm. 45.

[15] Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, hlm. 50.

[16] Undang-Undang Guru dan Dosen..., hlm. 14-15

[17] Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 69-70

[18] Rusn, Pemikiran Al-Ghazali..., hlm. 73-74

RASULULLAH PELIPURKU

  Sebenarnya ada rasa ingin kuungkapkan, tapi ada rasa khawatir jika ungkapan perasaanku ini menjadi pengurang cinta yang ada di hatiku. Aku...