Jumat, 09 Oktober 2026

BEKAL PULANG

 BEKAL PULANG

(Bagian 2)

 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku pernah duduk bersama Nabi SAW, lalu datang seorang laki-laki dari kalangan Ansar yang bertanya, "Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling cerdas?" Beliau menjawab:

 

أَنْصَارِيٌّ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اِسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

"Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas."


(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syekh Al-Albani

Kalau ada orang masih merasa kurang nyaman, gelisah dan  khawatir bila diwafatkan…di saat itu dia merenung…ini sudah fitrah menunjukkan ada kekurangan bekal yang ada dalam jiwanya…dan merasakan ada bekal yang kurang untuk dibawa pulang…yang paling mencengangkan dan paling tidak masuk akal…sudah tahu…sudah merasa bekalnya kurang…sudah tahu yang kemarin itu masih masih banyak kurangnya…kok sisa yang diberikan masih main-main juga…kok sisa waktu yang diberikan masih belum serius juga…jadi kalua sampai jumat ini …sampai detik ini belum mampu merubah kita…untuk dekat dengan Allah…Njenengan butuh berapa jumat lagi…njenengan butuh berapa tahun baru lagi…apamasih senang hanya dengan urusan dunia njenengan rayakan…sementara besok kita pasti akan berpulang ke hadapan Allah….ingat akhirat bukan berarti meninggalkan dunia…tapi juga bukan berarti hanya ngurus dunia dan lupa akhirat

Rasulullah SAW bersabda:

 

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟

 

"Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah apa yang tersisa di jarinya."
(HR. Muslim no. 2858)

 

PRINSIP MENGGEMBIRAKAN DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM

 

KESALAHAN PEMAHAMAN  DALAM MENERAPKAN PRINSIP “MENGGEMBIRAKAN “

DALAM PEMBELAJARAN MENDALAM


Murid tertawa, kelas ramai, ada ice breaking, ada permainan, apakah itu sudah bisa disebut pembelajaran yang menggembirakan ? belum tentu, justru disinilah sebagaian guru masih ada yang keliru dalam memahami prinsip pembelajaran menggembirakan dalam pembelajaran mendalam. Ini ada 7 kekeliruan  guru dalam mendalami dan mengaplikasikan prinsip menggembirakan dalam pembelajaran mendalam. Yang pertama, menganggap ice breaking sama dengan pembelajaran menggembirakan. Ice breaking hanya mencairkan suasana, belum tentu proses belajarnya menggembirakan. Yang ke dua, menganggap harus selalu ada permainan, padahal diskusi, praktek membaca dan memecahkan masalah juga bisa menggembirakan. Yang ke tiga, menganggap kelas harus selalu ramai, padahal kelas tenang Ketika murid sedang berpikir serius juga bisa menjadi pembelajaran yang menggembirakan. Yang ke empat, menganggap guru harus selalu lucu, yang penting bukan guru yang selalu bisa membuat murid tertawa, tapi murid merasa aman, dihargai dan berani mencoba. Yang ke lima, menganggap tugas harus mudah, padahal tantangan yang sesuai justru bisa menghadirkan kegembiraan Ketika murid berhasil menklukkannya.Yang ke enam, menganggap menggembirakan berarti mengikuti semua keinginan murid, padahal tetap ada aturan, disiplin, tanggungjawab dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Yang ke tujuh, menganggap menggembirakan hanya membuat murid senang, padahal lebih dari itu, murid perlu merasa aman, terlibat, tertata dan menikmati proses belajarnya. Itu juga bisa membuat hati murid gembira.jadi menggembirakan bukan sekedar membuat murid tertawa, tetapi membuat mereka senang belajar, tertantang untuk berpikir dan Bahagia Ketika mengalami kemajuan. Jadi jangan sampai kita sibuk membuat murid tertawa tetapi lupa membuat mereka bertumbuh. Karena pembelajaran menggembirakan bukan sekedar membuat murid senang berada di kelas, tetapi bagaiman kita membuat murid senang belajar. Dan dua hal itu ternyata tidak selalu sama.

BEKAL PULANG

  BEKAL PULANG (Bagian 2)   Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku pernah duduk bersama Nabi SAW, lalu datang seorang laki-lak...